Konstanta dalam Konteks: Teologi Misi pada Era Postmodern

Eliezer Nuban

Abstract


Efforts to write articles related to "Constants in the Context of Mission Theology" are very important, because mission is always loyal to its six constants, namely: "Christology, ecclesiology, soteriology, eschatology, anthropology and diology with human culture". Constructing a mission theology that is inspired by God's continuous act of mission in the world and is imperative to write a history of the Christian movement in a multi-directional world. The important foundation in what is stated here is mission that comes from the heart of God. This means that the land and mission must be properly understood. Stevri Lumintang wrote, "Understanding mission without a fundamental understanding of mission theology will fall into two tendencies, namely mission without meaning and mission losing meaning". On the other hand, the correct understanding will help us to see mission as the infinite work of God in, “God's infinite mercy establishes mission, (mission) and gospel, (mission) first through Israel and now through His church " Furthermore, Paul David said, "To get the news, you must understand the story". That means there is no need for an interpretation process between willing and unwilling in the task of carrying out God's mission, but it is the duty of His Church, because the gospel is an eternal heavenly treasure entrusted to us, and we owe it to those who have not heard the gospel, (Romans 1 : 16-17). It is necessary to build the awareness that, our time is limited, (John 9: 4), from this the Constants in Context: "Mission Theology in the Postmodern Era". Stay relevant, keep changing, and be faithful to the biblical text as a guide for the mission of the church until Christ returns.

Upaya menuangkan tulisan yang ada kaitan dengan “Konstanta dalam konteks teologi Misi” sangat penting, karena misi senantiasa setia kepada enam konstantanya yakni: “Kristologi, eklesiologi, soteriologi, eskatologi, antropologi dan dialog dengan kebudayaan manusia”.Stephen Menyusun teologi misi yang diilhami oleh tindakan misi Allah yang terus-menerus di dalam dunia dan sangat perlu menulis sejarah gerakan Kristen di dunia yang bersifat multi-directional. Landasan penting dalam apa yang dituangkan di sini adalah Misi bersumber dari hati Allah. Hal ini berarti landasan misi harus dipahami secara benar. Stevri Luminang menulis, “Memahami misi tanpa pemahaman secara mendasar mengenai teologi misi, maka akan jatuh pada dua kecenderungan yaitu misi tanpa arti dan misi kehilangan arti”. Sebaliknya dalam pemahaman yang benar akan menolong kita untuk melihat misi sebagai karya Allah yang tak terbatas dalam, “belas kasihan yang tak terbatas Allah menetapkan pengutusan, (misi) dan pekabaran Injil, (mission) mula-mula melalui Israel dan sekarang melalui gereja-Nya”. Selanjutnya Paul David mengungkapkan, “Untuk mendapatkan berita itu maka harus memahami ceritanya”. Itu artinya tidak perlu adanya proses interpretasi antara mau dan tidak dalam tugas pelaksanaan misi Allah, tetapi itu adalah kewajiban dari Gereja-Nya, karena Injil adalah harta kekal sorgawi yang dipercayakan kepada kita, dan kita berhutang kepada orang yang belum mendengarkan Injil, (Roma 1:16-17). Perlu membangun kesadaran bahwa, waktu kita terbatas, (Yohanes 9:4), dari hal inilah Konstanta Dalam Konteks: “Teologi Misi Pada Era Postmodern”. Tetap relevan, terus berubah, dan setia pada teks Alkitab sebagai pedoman misi gereja sampai Kristus datang kembali.

 


 

Upaya menuangkan tulisan yang ada kaitan dengan “Konstanta dalam konteks teologi Misi” sangat penting, karena misi senantiasa setia kepada enam konstantanya yakni: “Kristologi, eklesiologi, soteriologi, eskatologi, antropologi dan dialog dengan kebudayaan manusia”.Stephen Menyusun teologi misi yang diilhami oleh tindakan misi Allah yang terus-menerus di dalam dunia dan sangat perlu menulis sejarah gerakan Kristen di dunia yang bersifat multi-directional. Landasan penting dalam apa yang dituangkan di sini adalah Misi bersumber dari hati Allah. Hal ini berarti landasan misi harus dipahami secara benar. Stevri Luminang menulis, “Memahami misi tanpa pemahaman secara mendasar mengenai teologi misi, maka akan jatuh pada dua kecenderungan yaitu misi tanpa arti dan misi kehilangan arti”.[1] Sebaliknya dalam pemahaman yang benar akan menolong kita untuk melihat misi sebagai karya Allah yang tak terbatas dalam, “belas kasihan yang tak terbatas Allah menetapkan pengutusan, (misi) dan pekabaran Injil, (mission) mula-mula melalui Israel dan sekarang melalui gereja-Nya”.[2] Selanjutnya Paul David mengungkapkan, “Untuk mendapatkan berita itu maka harus memahami ceritanya”.[3] Itu artinya tidak perlu adanya proses interpretasi antara mau dan tidak dalam tugas pelaksanaan misi Allah, tetapi itu adalah kewajiban dari Gereja-Nya, karena Injil adalah harta kekal sorgawi yang dipercayakan kepada kita, dan kita berhutang kepada orang yang belum mendengarkan Injil, (Roma 1:16-17). Perlu membangun kesadaran bahwa, waktu kita terbatas, (Yohanes 9:4), dari hal inilah Konstanta Dalam Konteks: “Teologi Misi Pada Era Postmodern”. Tetap relevan, terus berubah, dan setia pada teks Alkitab sebagai pedoman misi gereja sampai Kristus datang kembali.


[1] Stevri Indra Lumintang, Misiologi Kontemporer, Menuju Ke Rekonstruksi Theologia Misi Yang Seutuhnya (Batu: Departemen Multi Media, YPPII, 2009),125.

[2] George W. Peters, Theologia Alkitabiah Tentang Pekabaran Injil (Malang: Gandum Mas, 2006),19.

[3] Paul David Tripp, Alat Di Tangan Sang Penebus (Surabaya: Momentum, 2014),2.


Keywords


constant; context; mission theology; Postmodern Era; konstanta; konteks; teologi misi; Era Postmodern

Full Text:

PDF

References


Andrew Brake. Menjalankan Misi Bersama Yesus. Bandung: Kalam Hidup, 2016.

Bob Moffitt dan Karla Tesch. Andaikan Yesus Kepala Daerah Transformasi dan Gereja Lokal. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2010.

David J. Hasselgrave. Communicating Christ Cross-Culturally. Malang: SAAT, 2005.

David J. Hesselgrave. Comunicating Christ Cross-Culturally. Malang: SAAT, 2005.

Donald Guthrie. Pengantar Perjanjian Baru Volume 2. 2 ed. Surabaya: Momentum, 2010.

Erich H. Chang. Totally Commited. Denpasar: Yayasan Peduli Nusantara, 2001.

George W. Peters. Theologia Alkitabiah tentang Pekabaran Injil. Malang: Gandum Mas, 2006.

Herman N. Ridderbos. Injil Yohanes suatu tafsiran Theologis. Surabaya: Momentum, 2012.

John Stott. Isu-isu Global. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2006.

———. The Radical Disciple. Surabaya: Momentum, 2017.

Paul David Tripp. Alat di tangan sang Penebus. Surabaya: Momentum, 2014.

———. Alat ditangan sang Penebus. Surabaya: Momentum, 2014.

Robi Panggara. “Amanat Agung sebagai tanggungjawab Gereja, ‘UTUSLAH AKU.’” Reuni STT Jaffray (2012): 289.

Schnabel, Eckhard J. Rasul Paulus Sang Misionaris. Yogyakarta: Penerbit Andi, 2014.

Stephan B. Bavans & Roger P. Schoeder. Terus Berubah, tetap setia. Maumere: Ladelero, 2006.

Stephen B. Bevans dan Roger P. Schroeder. Terus berubah, tetap setia. Semarang: Bina Putra, 2006.

Stevri Indra Lumintang. Introduksi Theologia Sistematika, system berpikir logis theologia. Jakarta: Geneva Insani Indonesia, 2019.

———. Misiologi Kontemporer, menuju ke rekonstruksi Theologia misi yang seutuhnya. Batu: Departemen Multi Media, YPPII, 2009.

———. Misiologia Kontemporer. Batu: Departemen Multi Media, YPPII, 2009.

Th. Van den End. Tafsiran Alkitab Surat Roma. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997.

Will Metzger. Beritakan Kebenaran. Surabaya: Momentum, 2013.

Willem A. VanGemeren. Progres Penebusan, Kisah Keselamatan dari Penciptaan sampai Yerusalem Baru. Surabaya: Momentum, 2016.




DOI: https://doi.org/10.38189/jan.v2i1.118

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
Angelion is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Based on a work at https://e-journal.sttberitahidup.ac.id/index.php/jan 
E-mail: jurnalangelion@gmail.com

Angelion terindeks pada:

          

Keanggotaan dalam asosiasi

 

Laman terkait:

            

Angelion Stats