Purpur Sage sebagai Pendampingan dan Konseling Rekonsiliasi Kultural Masyarakat Seberaya

Ria Ebregina br Ginting

Abstract


 

At this era the term of reconciliation is widely used in society. along with the occurrence of various conflicts in society, the term of reconciliation has become a term that has never been ignored and  always warm to discuss. reconciliation relates to various processes carried out to rectify the chaotic situation caused by the conflict that occurred. various conflicts that occur become a reality that often occurs. There is no society has never faced conflict. conflicts that occur because of a mismatch between one person and another, both cultural background, values and community interests. conflict is part of the journey of human life and as a natural consequence of a diverse existence, especially as a cultured being. the conflicts that occur often have a negative impact that lead to divisions and acts of violence. thus cultural reconciliation becomes an important thing in a mentoring and counseling approach to be carried out in restoring damaged relationships between humans and one another as cultured creatures.

Pada masa sekarang, istilah “rekonsiliasi” banyak dipergunakan dalam masyarakat. Seiring dengan terjadinya berbagai konflik dalam masyarakat, maka istilah rekonsiliasi menjadi suatu istilah yang tidak pernah terabaikan dan selalu hangat untuk diperbincangkan. Rekonsiliasi berhubungan dengan berbagai proses yang dilakukan untuk meluruskan situasi yang kacau akibat konflik yang terjadi. Berbagai konflik yang terjadi menjadi suatu realitas yang kerap terjadi. Tidak ada satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik. Konflik yang terjadi karena adanya ketidaksesuaian antara seseorang dengan yang lainnya, baik latar belakang budaya, nilai-nilai dan kepentingan masyarakat. Konflik merupakan bagian dari perjalanan kehidupan manusia dan sebagai konsekuensi alami dari keberadaan yang beragam, khususnya sebagai mahkluk yang berbudaya. Konflik yang terjadi kerap kali berdampak negatif yang menyebabkan terjadinya perpecahan dan tindak kekerasan. Dengan demikian rekonsiliasi kultural menjadi suatu hal yang penting dalam sebuah pendekatan pendampingan dan konseling untuk dilakukan dalam pengembalian hubungan yang telah rusak antara manusia satu dengan yang lainnya sebagai mahkluk yang berbudaya.

 


Keywords


Conflict; purpur sage; cultural reconciliation; local wisdom; Konflik; rekonsiliasi kultural; kearifan lokal

References


Kreider, Alan dkk. A Culture of Peace: God’s Vision for The Church. Intercourse, PA: Good Books, 2005.

Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosdakaria, 1998.

Denzin Noman K. dan Yyonna S. Lincoln. The Sage Handbook of Qualitative Research I. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011.

Sugiato, Eko. Menyusun Proposal Penelitian Kualitatif Skripsi dan Tesis. Yogyakarta: Suaka Medika, 2015.

Creswell, John W. Research Design: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Campuran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010.

Ginting, E.P. Adat Istiadat Karo Kinata Berita Si Meriah Ibas Masyarakat. Kabanjahe: Abdi Karya, 1994.

Simanjuntak, Bungaran Antonius. Arti dan Fungsi Tanah bagi Masyarakat Batak. Medan: Massa Baru, 2004.

Minow, Marth.a Between Vengeance and Forgiveness – Facing History after Genocide and Mass Violence. Boston: Beacon Press, 1998.

Schreiter, Robert J. “Reconciliation as a Model of Mission” dalam: Neue Zeitschrift fur Missionswissens chaft-Nauvelle Reuve de Science missionarie. no. 52-1996.

Hehanusa, Jozef M, N. Mendorong Penegakan Keadilan Transformatif, dalam Pusat Studi dan Pengembangan Perdamaian, Memulihkan, Merawat dan Mengembangkan Roh Perdamaian. Yogyakarta: Pusat Studi dan Pegembangan Perdamaian, 2011.

Suka, Sada Kata Ginting. Orat Nggeluh, Rikut Bicara Kalak Karo, Ope Tubuh seh Idilo Dibata. Medan: Yayasen Merga Silima, 2014.

Prinst, Darwin. Adat Karo. Medan: Kongres Kebudayaan Karo: 2014.

Engel, J.D. Pastoral dan Kebutuhan Dasar Konseling. Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2016.

Engel, Jacob Daan. Pendampingan Keindonesiaan. Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2020.

Freedman, David Noe.l (ed.), Eermands Dictionary of the Bible. Michigan, Grand Rapids/UK, Cambridge: William B. Eerdmans Publishing Company, 2000.

Crim Keith. (Gen. editor), The Interpreter’s Dictionary of the Bible (Suplementary Volume). Nashville: Abingdon Press, 1984.

Luzbetak, Louis, J. The Church and Cultures-New Perspectives in Missiological Anthropology. Maryknoll: Orbis Book, 2000.

Koentjaraningrat, Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: PT. Gramedia, 1981.

Nurcahyo, Abraham. “Model Rekonsiliasi Kultural untuk Mengatasi Konflik Sosial”, Jurnal Studi Sosial, Volume 6, No 2. November 2014.




DOI: https://doi.org/10.38189/jtbh.v4i1.113

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
JURNAL TEOLOGI BERITA HIDUP is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Based on a work at https://e-journal.sttberitahidup.ac.id/index.php/jbh
E-mail: jurnalberitahidup@gmail.com

JURNAL TEOLOGI BERITA HIDUP telah terindeks pada situs:

           

 Association Membership:

   

Laman terkait

            

 

View Berita Hidup Stats