Perselisihan Paulus dan Barnabas: Tanda Gereja yang Hidup dan Berpikir
DOI:
https://doi.org/10.38189/jan.v7i1.1195Kata Kunci:
Paulus, Barnabas, Perselisihan, Misi, Gereja, EksegesisAbstrak
Paul and Barnabas were central figures in the spread of the gospel in the early church, but their partnership was marred by a sharp dispute over John Mark's participation in the second missionary journey. This article aims to revisit the conflict from a progressive perspective, arguing that it is not a failure of ministry, but a reflection of a church that is alive and has the ability to think critically for the sake of common progress. This study uses a historical-descriptive analysis method with an exegetical approach to trace the roots of the conflict and the reasons behind the decisions of the two figures. The analysis shows that the tensions that occurred were rooted in differences in strategic considerations: Paul emphasized full commitment and mission effectiveness, while Barnabas emphasized the value of grace, forgiveness, and a second chance for individual recovery. The separation that occurred eventually became a "win-win solution" that actually accelerated the expansion of the reach of the gospel ministry to a wider area. This article concludes that strife is a natural part of human life and the church; For the Church today, disputes do not need to be avoided, but can be an instrument to mature character and expand the capacity of ministry, provided it is managed with spiritual maturity and openness in opinion.
Paulus dan Barnabas merupakan tokoh sentral dalam penyebaran Injil pada masa jemaat mula-mula, namun kemitraan mereka diwarnai oleh perselisihan tajam mengenai keikutsertaan Yohanes Markus dalam perjalanan misi kedua. Artikel ini bertujuan untuk meninjau kembali perselisihan tersebut dari sudut pandang progresif, dengan mengajukan argumen bahwa konflik tersebut bukan merupakan kegagalan pelayanan, melainkan cerminan dari gereja yang hidup dan memiliki kemampuan berpikir kritis demi kemajuan bersama. Penelitian ini menggunakan metode analisis historis-deskriptif dengan pendekatan eksegetis untuk menelusuri akar konflik serta alasan di balik keputusan kedua tokoh tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa ketegangan yang terjadi berakar pada perbedaan pertimbangan strategis: Paulus menitikberatkan pada komitmen penuh dan efektivitas misi, sementara Barnabas mengedepankan nilai anugerah, pengampunan, dan kesempatan kedua bagi pemulihan individu. Perpisahan yang terjadi akhirnya menjadi "win-win solution" yang justru mempercepat perluasan jangkauan pelayanan Injil ke wilayah yang lebih luas. Artikel ini menyimpulkan bahwa perselisihan merupakan bagian alami dari kehidupan manusia dan gereja; bagi gereja masa kini, perselisihan tidak perlu dihindari, melainkan dapat menjadi instrumen untuk mematangkan karakter dan memperluas kapasitas pelayanan, asalkan dikelola dengan kedewasaan rohani dan keterbukaan dalam berpendapat.
Referensi
Ak, Suswinarno. Aman dari Risiko dalam Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. 1 ed. Jakarta: Trasmedia Pustaka, 2012.
Alkitab Lanjut Usia. Pertama. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2006.
Alland, Nestle -. Novum Testamentum Graece. Diedit oleh Institute for Newtestament Textual Research. 28 ed. Stuttgart: Deutshe Bibel Gesellschaft, 2012.
Allo, Karisma Tiku. “Analisa Konflik antara Paulus dan Barnabas dalam Kisah Para Rasul 15 dan Relevansinya terhadap Perpecahan Gereja Masa Kini.” Academia Edu, 2022.
Dwi Atni Setyowati. “Konflik Kepemimpinan Dalam Pekabaran Injil: Sebuah Pemaknaan Terhadap Perselisihan Paulus Dan Barnabas.” Jurnal Abdiel 3, no. 1 (2019): 33–47.
Evers, Hans-Dieter. Teori Masyarakat: Proses Peradaban dalam Sistem Dunia Modern. Diedit oleh Thomas Rieger. 1 ed. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 1988.
K, Christofora. Mengatasi Rasa Stress di Tempat Kerja: Tips dan Strategi untuk Mengelola tekanan. Diedit oleh Monica. 1 ed. Yogyakarta: Cahaya Harapan, 2023.
Kamus Besar Bahasa Indonesia. 6 ed. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, 2023. https://kbbi.kemdikbud.go.id/.
Lati;, Fandy Mulya; Samuel Herman. “Analisis Perselisihan Paulus dan Barnabas dalam Kisah Para Rasul 15:36-41 dari Perspektif Kepemimpinan dan Implikasinya.” SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen 6, no. 2 (2025): 133–44.
Miller, Stephen M. Panduan Lengkap Alkitab. Diedit oleh Windiasih Sairoen, Ellia Erliani, dan Rika Uli Napitupulu Simarangkir. 1 ed. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2020.
Santo, Joseph Christ. “Strategi Menulis Jurnal Ilmiah Teologis Hasil Eksegesis.” In Strategi Menulis Jurnal untuk Ilmu Teologi, diedit oleh Sonny Eli Zaluchu, 121–39. Semarang: Golden Gate Publishing, 2020.
Sonny Eli Zaluchu. “Analisis Kisah Para Rasul 15 Tentang Konflik Paulus dan Barnabas serta Kaitannya dengan Perpecahan Gereja.” Kurios: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen 4, no. 2 (2018): 107–17.
Susanto, Ferry. “Cara Pandang Barnabas si Anak Penghiburan.” Driyarkara 08, no. 02 (2019): 107–24.
Tarpin, Laurentius. Kebaruan dan Radikalitas yang Dibawa Yesus. Diedit oleh Victima Paska. Yogyakarta: PT Kanisius, 2022.
Tenney, Merrill C. Survei Perjanjian Baru. 11 ed. Malang-jawa Timur: Gandum Mas, 2017.
Tolman, Charles W, Frances Cherry, Rene Van Hezewijk, dan Ian Lubek. Problems of Theoretical Psychology. Canada: Captus University, 1995.
YLSA, Team. “Alkitab Sabda,” n.d.
Zaluchu, Sonny Eli. “Analisis Kisah Para Rasul 15 Tentang Konflik Paulus dan Barnabas serta Kaitannya dengan Perpecahan Gereja.” Kurios 4, no. 2 (2018): 107–17. http://www.sttpb.ac.id/e-journal/index.php/kurios.
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Angelion

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.
Angelion is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Based on a work at https://e-journal.sttberitahidup.ac.id/index.php/jan
E-mail: jurnalangelion@gmail.com






